Dakwah

Orang Lain adalah Ujian bagi Diri Kita dan Kita Adalah Ujian bagi Manusia Lainnya

2. maukah engkau bersabar

Sebagian dari gambaran ujian yang paling besar dan paling banyak terjadi atas manusia adalah ujian antar sesama manusia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan Kami jadikan sebahagian engkau cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah engkau bersabar?; dan adalah Tuhanmu Maha Melihat.” (QS. Al-Furqan: 20)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman, “Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin).” (QS. Al-An’am:53)

dan firman-Nya, “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal: 28)

Dalam ayat lain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Demikianlah, apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian engkau dengan sebahagian yang lain.” (QS. Muhammad: 4)

Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa Dia memberikan ujian kepada para hamba-Nya melalui mereka sendiri dan menjadikan sebagian mereka sebagai ujian bagi lainnya. Allah subhanahu wa ta’ala menguji orang tua melalui anaknya, anak melalui orang tuanya, suami melalui istrinya, istri melalui suaminya, kerabat melalui kerabatnya, tetangga dengan tetangganya, teman dengan temannya, pemimpin melalui rakyatnya, rakyat melalui pemimpinnya, ulama dengan orang-orang bodoh, orang-orang bodoh dengan ulama, para utusan dengan umatnya, umat dengan utusannya, orang Islam dengan orang kafir, orang kafir dengan orang Islam, orang shaleh dengan orang fasik, orang fasik dengan orang shaleh, orang yang menyeru kepada kebaikan juga diuji melalui orang yang diserunya. Di samping itu, Allah subhanahu wa ta’ala juga menguji orang kaya melalui orang fakir, orang fakir melalui orang kaya, anak kecil melalui anak yang dewasa, anak yang sudah dewasa melalui anak kecil, orang yang kuat melalui orang yang lemah, orang yang lemah melalui orang yang kuat, orang sehat melalui orang sakit, orang sakit melalui orang yang sehat, wanita melalui laki-laki dan laki-laki melalui wanita. Demikianlah, setiap golongan manusia mendapatkan ujian dengan apa yang dihadapinya dan diuji dengan orang yang memperlakukan dan bergaul dengannya. Apakah dia bisa menunaikan dengan hak-hak mereka, menunaikan kewajiabannya, memperlakukan mereka dengan baik, menasihatinya, tidak menyakitinya, dan takut kepada Allah dalam hal itu? Ataukah dia akan menzalimi dan menganiayanya, dengki dan marah padanya, menghina dan membiarkannya, mengkhianatinya, membebani dan membuatnya berduka, melanggar kehormatan, atau lalai dalam menunaikan hak dan kewajibannya?

Firman Allah subhanahu wa ta’ala. “Dan Kami jadikan sebahagian engkau cobaan bagi sebahagian yang lain.” (QS. Al-Furqan: 20)

Ayat ini bersifat umum mencakup seluruh makhluk. Sebagian dari mereka diuji dengan yang lainnya, seorang rasul dicoba dengan orang-orang obyek seruannya, juga diuji dengan dakwahnya kepada kebenaran, memberi nasihat dan berusaha menyampaikan petunjuk. Dia diuji untuk sabar menghadapi tindakan yang tidak baik dan menanggung beban yang berat dalam menyampaikan risalah Tuhannya kepada mereka. Orang-orang yang menjadi objek seruan rasul pun diuji melalui rasul tersebut, apakah mereka akan menaatinya dan memenuhi seruannya, atau bahkan menentang dan tidak memenuhi seruannya? Apakah mereka akan menolong dan memuliakannya atau malah mengkhianati dan memeranginya?

Demikian pula Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dengan karamah dan keistimewaan yang dimilikinya dianggap sebagai ujian bagi para pemuka bangsa kafir Quraisy. Coba lihat perkataan mereka di dalam Al-Quran, “Dan mereka berkata, “Mengapa Al-Quran ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (mekah dan Thaif) ini?”” (QS. Az-Zukhruf: 31)

Dalam ayat lain, “Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah.” (QS. Al-An’am: 124)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berkata kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dalam sebuah hadist qudsi, “Sesungguhnya aku mengutusmu untuk memberikan ujian kepadamu dan mendatangkan cobaan melaluimu.”

Hal semacam itu terjadi pula dalam diri para ulama yang diuji melalui orang yang bodoh. Apakah ulama sanggup memberi nasihat kepada mereka, mengajari dan menemani mereka, sabar dalam memberikan pengajaran kepada mereka, konsisten dan memecahkan persoalan yang mereka hadapi dan selalu membela kepentingan mereka serta menuntut hak-hak mereka. Ataukah para ulama itu akan berpaling dari kewajibannya terhadap mereka dan lalai dalam menunaikan hak-hak mereka? Orang-orang bodoh pun diuji melalui para ulama, apakah mereka menaati dan meminta petunjuk dari para ulama, mengakui kedudukannya, menghormatinya dan bekerjasama dengan mereka dalam berbuat kebaikan dan takwa? Ataukah mereka akan memperkosa hak-hak para ulama, bersikap dan bertingkah laku buruk terhadap mereka serta tidak menolong atau membantu mereka?

Orang tua juga diuji melalui anaknya, sejauh mana dia bisa menunaikan tanggung jawabnya dalam mendidik dan mengajari anak-anaknya? Sejauh mana pula dia bisa menjaga amanat yang telah dipercayakan kepadanya dalam mengurus mereka, selalu memberikan petunjuk dan contoh yang baik bagi mereka dengan etika dan teladan yang baik pula?

Seorang anak juga diuji melalui orang tuanya, sejauh mana dia bisa berbakti kepadanya, memuliakannya, rendah hati terhadapnya, melayani dan mentaatinya dalam kebaikan, membalas budi baiknya dengan cara bersilaturahmi dan berterimakasih padanya serta berlaku baik dengan ucapan lembut atau pun perbuatan yang mulia terhadap mereka?

Begitu pula dengan ujian kerabat melalui kerabatnya, tetangga melalui tetangganya, teman melalui temannya, suami melalui istrinya, istri melalui suaminya, dan sebagainya.

Dari sini, orang fakir selalu bertanya, “Mengapa saya tidak seperti orang kaya?” Orang lemah juga berkata, “Seandainya aku seperti orang yang kuat.” Orang sakit ikut berkata, “Seandainya aku seperti orang yang sehat?” Dan orang yang buta berkata, “Seandainya aku bisa melihat?”

Demikianlah, orang yang diberi cobaan dengan bencana atau kekurangan, diuji dengan orang yang memiliki kondisi sebaliknya, diberi nikmat dan kesehatan. Jangan sampai dia merasa iri dengan nikmat yang telah Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada orang lain, jangan pula mengambil hak orang lain kecuali atas izin dan kebaikannya. Hendaknya dia merasa ikhlas dengan apa yang telah Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepadanya.

Orang sehat juga diuji melalui orang sakit, jangan sampai dia menghina dan mengolok-olok orang sakit. Hendaknya dia menyayangi dan menjadi pelipur dukanya. Dia juga harus bersyukur atas nikmat keselamatan dan kesehatan yang ada padanya.

Orang-orang fakir dan lemah dari golongan mukmin dan pengikut seorang rasul juga merupakan ujian bagi para bangsawan dan pembesar. Para bangsawan dan pembesar itu tidak mau beriman, meski kebenaran itu telah jelas di mata mereka, karena bermaksud menghinakan pengikut-pengikut rasul dan menyombongkan diri di depan mereka. Mereka berkata kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, “Kalau sekiranya dia (Al-Quran) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya.” (QS. Al-Ahqaf: 11)

Mereka juga berkata kepada Nabi Nuh alaihis salam, “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti engkau ialah orang-orang yang hina?” (QS. Asy-Syu’ara: 111)

Oleh karena itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan demikanlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebaagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata, “Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?” (QS. Al-An’am: 53)

Para bangsawan itu menghina kaum dhu’afa dan menolak untuk masuk Islam, karena kedudukan mereka akan jatuh dan sederajat dengan kaum dhu’afa tersebut. Atau, mungkin mereka menolak masuk Islam, karena orang fakir telah terlebih dahulu masuk Islam, sehingga orang fakir tersebut memiliki keutaam yang lebih dari mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan kondisi kedua kelompok tadi di dunia dan di akhirat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Sesungguhnya, ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdoa (di dunia): “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik. Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan adalah kamu selalu mentertawakan mereka, Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, karena kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang”. (QS. Al-Mu’minun: 109-111)

Orang mukmin dari kaum dhu’afa telah memperoleh kebahagiaan karena mereka telah bersabar dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan berhasil dalam ujian. Sementara para bangsawan itu gagal karena mereka berdosa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan menyombongkan diri untuk tidak taat kepada Allah. Mereka tidak bersabar dalam kebenaran yang merupakan sebuah ujian bagi mereka.

Oleh karena itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Maukah engkau bersabar?; dan adalah Tuhanmu Maha Melihat.” (QS. Al-Furqan: 20). Artinya, maukah engkau bersabar dalam kebenaran dan berhasil dalam ujian?” Kalimat itu adalah kalimat istifham (pertanyaan) yang bermakna perintah. Jadi maknanya: bersabarlah.

Lihat juga firman-Nya, “Dan adalah Tuhanmu Maha Melihat.” (QS. Al-Furqan: 20). Maksudnya adalah, bahwa Tuhan melihat amal perbuatan dan sikap kalian terhadap cobaan ini.

Dan firman-Nya, “…Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga).” (QS. An-Najm: 31)

Dalam keterangan ini terdapat ancaman keras bagi orang yang zalim agar menghentikan kezalimannya dan segera bertobat, karena Allah subhanahu wa ta’ala adalah Dzat Yang Maha Melihat kezalimannya. Ingatlah, Allah subhanahu wa ta’ala tidak menyukai orang-orang zalim, Dia akan memanjangkan usia orang zalim sehingga Allah subhanahu wa ta’ala menghukumnya dan tidak melepaskannya. Hal ini juga sebagai hiburan dan pelipur lara bagi orang yang dizalimi bahwa Allah subhanahu wa ta’ala Maha Mengetahui apa yang terjadi. Allah subhanahu wa ta’ala juga Penolong bagi orang-orang yang dizalimi dan Pemberi pahala bagi orang-orang yang bertakwa.

Disalin dari:
Al-Fauzan, Abdul Aziz. 2007. Fikih Sosial: Tuntunan dan Etika Hidup Bermasyarakat. Jakarta: Qisthi Press.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s